Integritas seorang Guru Kristen.!

“INTEGRITAS BAGI SEORANG GURU KRISTEN”

Mengajar merupakan salah satu pekerjaan dimana kita bukan hanya dituntut untuk mengenali anak didik, tapi juga untuk mengenali siapa kita sesungguhnya. Lewat mengajar, kita belajar. Belajar dan mengenal akan diri kita sendiri. Kadang ditengah-tengah ketergesaan dalam mereformasi pendidikan, kita sering melupakan sebuah kebenaran sederhana yakni hati nurani kita. Kita lupa untuk menantang hati nurani kita. Hati nurani manusia yang dimana menjadi sumber pengajaran yang baik. Tidak hanya sampai dilupa. Kita juga sering gagal dalam menghargai hati nurani. Dan itu berarti kita tidak mengenal siapa sesungguhnya pribadi yang mengajar itu. Saat menyadari hal tersebut, keluarkanlah point pertanyaan “Siapa diri kita sebagai guru?”

Seorang guru yang baik, tentu akan memahami betul identitas diri dan integritas dalam pengajaran. Karena kedua hal itulah yang membangun sebuah pengajaran yang baik. Identitas dan Integritas adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan dan bisa tumbuh kapan saja.  Sering kali bergantung pada lingkungan yang membentuk kita.

Si A adalah seorang guru Kristen.  Dan si A tahu itu adalah identitas dirinya. Tapi si A belum bisa dikatakan tahu “siapa saya”. Kenapa? Karena si A belum mengenal dan memiliki integritas sebagai seorang guru. Kemudian, apa sebenarnya Integritas itu? Apa kaitannya dengan seorang guru Kristen?

Pernahkah mendengar pepatah yang  mengatakan “Hati nurani manusia tidak pernah berbohong?”.Mengapa hati nurani tidak pernah bohong? Sebenarnya Hati nurani sendiri yang penulis yakini adalah Roh Kudus yang diam dalam kita. Saat kita telah dilahirkan kembali oleh Roh Kudus (yoh.3:5), kita akan dimampukan mendengar apa yang Tuhan kehendaki atas kita melalui hati nurani kita. Nurani kita berbisik. Integritas merupakan hasil dari bisikan hati nurani tersebut. Melalui integritas, jati diri kita dibangun. Sebuah jati diri yang satu, dan tidak terbagi-bagi.

Menurut J.Palmer,  “Integritas adalah hal menyeluruh apa pun yang bisa kita temukan dalam jaringan hidup kita yang menjadi arah dalam membentuk dan membentuk ulang pola kehidupan kita.”(Keberanian mengajar hal.20). Pola – pola tersebut kemudian menjadi satu kesatuan yang kokoh sebagai bagian dalam jati diri kita. Jati diri yang tidak terbagi, yang kokoh akan dapat mempermudah menjalin hubungan diluar dengan baik. Cara menyatukan diri dengan siswa, dengan sesama guru, dengan orang disekitar kita, bahkan hubungan kita dengan Pencipta kita. Dari hubungan yang baik tersebut kita akan dapat mampu menciptakan sebuah pengajaran yang baik.

“Dia guru yang jahat. Aku tidak mau belajar dengan guru itu.”Keluh salah satu siswa yang sepertinya ketakutan. Entah dimarahi, diejek, ataupun cara pengajaran yang terlalu keras. Identitas guru tersebut menjadi jelek di mata siswa tersebut.  Apa dengan begini pendidikan ditransformasikan menjadi lebih baik? Tentu tidak. Kewibawaan seorang guru dalam mengajar tentu sangatlah diperlukan. Asalkan tidak berlebihan. Dalam arti, wibawa yang berujung pada sebuah point dimana Kasih kristus tidak ada dalamnya. Itulah mengapa integritas diperlukan. Saat kita menyadari siapa kita sesungguhnya, maka kita pasti akan bisa mengontrol dan menghubungkan logika dengan hati kita sebagai seorang guru.

Penulis sendiri menyadari bukanlah sebuah hal yang mudah untuk menciptakan sebuah integritas. Menurut H.Brummelan, menjadi ciptaan baru mengubah tujuan dan cara pandang kita.  Integritas yang sesungguhnya akan didapatkan jika penulis telah lahir baru. Dan itu semua tentu adalah pekerjaan dari Roh Kudus sendiri. Cara pandang kita berubah, maka kita dapat menjadi jembatan antara integritas dan ketulusan hati dalam mengajar. Penulis terus menggumulkan hal ini. Mencintai pekerjaan, jati diri tidak terbagi, dan tidak ada kepura-puraan. Hari-hari pasti akan terasa menyenangkan walaupun ditengah kekusutan pengajaran.

About these ads
By cindylanovia

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s